UNDERGROUND!!!!!

musik Underground Musti Rusuh?? KENAPA??? PDF Print E-mail
Written by Herman Tjahja
Saturday, 22 March 2008
Dentuman drum dengan tempo cepat, suara gitar penuh distorsi, dan teriakan vokal bisa bikin lo semua jadi histeris, apalagi buat lo yang kurang bisa ngegambarin musik-musik cadas yang lagi pada digandrungi anak-anak muda zaman sekarang: Underground! Lo mungkin udah familiar sama kata underground, apalagi 9 Februari lalu konser musik kelompok band jenis ini, Beside, di Gedung Asia Africa Cultural Center (AACC), Jalan Braga, Bandung, menelan 10 orang korban tewas. Apakah konser underground mesti bikin rusuh dan chaos?Guys, denger dulu nih, apa kata orang-orang yang berkecimpung di musik underground itu.
“Arti sebenernya underground sih `bawah tanah’, tapi dalam musik, underground tuh berarti tempat di mana musik-musik yang berlawanan dengan aliran mainstream (major) bergejolak dan tetap eksis walau hanya di kalangan tertentu aja,” kata Rian Ashari Arham (22), vokalis band A Brokenhearted Loveletter from Allize.
Ada tambahan keterangan dari situs http://en.wikipedia.org/wiki/Underground_music,bahwa musik underground tuh nggak ngandalin sukses komersial. Terus istilah underground sering juga dipakai buat nyebut musik hip-hop, heavy metal, rock alternatif, punck rock, hardcore, dan musik-musik keras lainnya.

Namun kata Rian, sekarang musik-musik underground udah nggak terlalu bergerilya seperti dulu karena nggak sedikit stasiun radio lokal–yang udah punya nama sekalipun–ngadain on air yang isinya musik-musik underground, entah yang beraliran metal ataupun melodic, supaya nggak ada pengasingan untuk genre-genre musik, entah itu mainstream atau underground.

Warga Kompleks Karang Tengah Permai, Tangerang, itu nambahin, “Kalo lo pengen dateng dan nonton band-band underground, khususnya yang beraliran metal atau melodic, setiap minggu di café, GOR, ataupun acara sekolah (pensi), nggak jarang band cadas diundang untuk main di acara umum dan nggak tertutup untuk kalangan tertentu aja.”

“Kalo yang gue liat sekarang underground lebih ter-expose aja, khususnya genre metal-nya. Nggak kayak dulu. Kalo dulu masih kebanyakan beraliran (genre) rock alternatif,” ucap cowok yang udah ngikutin scene ini sejak SMP.
Salah satu band management yang cukup rutin bikin acara underground adalah Dead Couple (DC). Band management ini ngurus lebih dari 38 band underground. DC merupakan media baru yang coba menggunakan konsep “diy” (do it yourself) “merch promotion”.
“Jadi tidak hanya membuat merch (merchandise) band saja, kami juga membantu mempromosikannya,” jelas Adit (19), salah satu staf di DC.
DC, kata Adit, udah beberapa kali ngebuat acara walau dalam skala yang nggak besar. Terakhir di Marotti Café (Jalan Panglima Polim, Jaksel), akhir Februari lalu.

“Ya, underground sekarang udah maju lah, pesat, sepesat perkembangan koruptor dan luapan lumpur lapindo…hehehe..,” seloroh Adit.
“Sekarang semua udah support lah, seperti media, mulai dari fanzine, magazine, radio, sampe local TV. Ya contohnya interview ini,” komentar cowok bernama lengkap Adityo Satrio ini sambil tersenyum.
Scene ini berkembang, bukan hanya karena segi musikalitasnya tapi juga karena scene ini bisa memompa adrenalin lo semua. Itu bisa keliatan dari penontonnya yang nggak pandang umur, dari remaja labil sampai tua-tua keladi… Mereka campur aduk di sana.

Tapi image underground terkadang negatif. Setiap ada masalah chaos atau human error pada acara-acara musik underground, expose-nya langsung gede-gedean. Terus terkesan underground berbau rusuh dan chaos…

“Hahaha… Ya enggak lah. Kebanyakan mereka yang nggak ngerti scene ini yang merusaknya jadi keliatan rusuh lah,” celetuk Devon, cowok gondrong, si owner Dead Couple, nggak setuju. Dia sendiri ngaku udah 9 tahun berkecimpung di situ.

Biar nggak ribut gimana? Devon cuma bisa pesan, kalo mau bikin acara atau event kayak gini (underground), jangan lupa lo buat perizinan ke polisi. “Karena izin keramaian itu penting untuk acara kayak gini, untuk ngehindari human error atau kalalaian hukum,” tegasnya.

“Mau ditangkep lo buat event nggak ada izin? Tapi sampe saat ini perizinan masih jadi pertanyaan di diri gue juga, izin buat apaan? Toh nggak dijaga juga gitu acaranya…hahaha..,” tawa Devon berderai waktu ditanya soal chaos dan ribut underground.

Bicara soal chaos dan rusuh di konser musik-musik keras, Indonesia pernah tergoncang ketika Metallica tampil di Stadion Lebak Bulus tahun 1993. Ketika itu puluhan orang luka-luka, mobil, toko, dan rumah dirusak massa. Dikira udah nggak ada lagi, eh… baru-baru ini underground berkabung lagi dengan kasus Beside di AACC Bandung itu. “Iya tuh ya, gimanapun gue nggak nyangka banget. Gue cuma bisa bilang turut berduka, dan memberi semangat buat Beside bahwa ini musibah tak terduga dan bisa jadi pelajaran buat kita kalo buat acara,” kata Devon lagi.

Bagi Devon dan Rian, musik underground jelas nggak identik dengan rusuh dan chaos. Menurut mereka, rusuh terjadi lebih karena nggak siapnya panitia dan ulah penontonnya, bukan genre musiknya.
“Musik pop juga bisa memancing rusuh, sama aja,” kata Rian. “Penonton kadang kampungan. Cuma baru kesenggol dikit aja udah langsung maen gampar aja. Kacau deh…hehehe…” (Anggit)

2 Responses to “UNDERGROUND!!!!!”

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. hajar brow……………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: